• SMA NEGERI 1 WANASARI
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

MENGIDENTIFIKASI ASAM BASA DENGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI BERBANTUAN MEDIA PHET (PHYSICS EDUCATION TECHNOLOGY)

     A. Latar Belakang

Kurikulum merdeka sangat identik dengan pembelajaran yang berpihak kepada siswa, begitu juga dengan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar siswa.

Guru memfasilitasi siswa sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap siswa mempunyai karakteristik yang berbeda, sehingga tidak diberi perlakuan yang sama dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi pada kelas XI IPS 1 pada mata pelajaran lintas minat kimia materi asam basa terdapat beberapa perbedaan gaya belajar yang dimiliki siswa, ada yang menyukai pembelajaran kimia dengan praktikum dan ada yang tidak, serta berbagai indikasi lainnya. Hal ini diperkuat dengan hasil tes diagnostik nonkognitif yang menunjukkan bahwa terdapat 3 gaya belajar yang berbeda di kelas tersebut, meliputi : visual, auditori, dan kinestetik.

Perbedaan gaya belajar pada materi kimia ini harus disikapi agar tidak timbul miskonsepsi. Guru harus mempersiapkan pembelajaran dengan beragam perlakuan untuk setiap siswa. Salah satu caranya adalah dengan pembelajaran menggunakan pendekatan media. Menurut Akbar et al., (2015) media akan lebih mengefektifkan dan mengefesiensikan proses belajar mengajar. Media yang digunakan harus memfasilitasi kebutuhan belajar siswa dengan catatan tidak mengurangi esensi materi yang disampaikan.

Praktikum diperlukan untuk mengidentifikasi asam basa, sedangkan praktikum hanya disukai oleh siswa dengan gaya belajar kinestetik. Oleh karena itu perlu adanya media yang bisa memfasilitasi praktikum bagi siswa yang memiliki gaya belajar visual dan auditori. Dalam hal ini bisa digunakan media PhET (Physics Education Technology).

PhET dalam pembelajaran kimia dapat digunakan sebagai sebagai media belajar untuk memudahkan siswa dalam simulasi praktikum kimia bagi siswa visual dan auditori. Dengan penggunaaan PhET siswa dapat melakukan simulasi praktikum asalkan terhubung jaringan internet.

Berdasarkan latar belakang tersebut, saya membuat aksi nyata dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada materi asam basa dengan menggunakan berbagai media, salah satunya adalah media PhET.

 

     B. Tujuan

Siswa mampu mengidentifikasi larutan asam basa dalam kehidupan sehari-hari dengan benar sesuai dengan profil belajar siswa (visual, auditori, dan kinestetik)

 

     C. Tahap Pelaksanaan

Sebelum pembelajaran dimulai, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan profil belajar siswa, baik visual, auditori, maupun kinestetik. Pembagian kelompok ini berdasarkan dengan kuesioner terkait profil belajar siswa yang dibuat guru melalui google form. Setelah itu, siswa duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing.

Pelaksanaan pembelajaran terdiri dari dua tahapan, yaitu tahap pendalaman materi dan tahap praktikum. Pada tahap pendalaman materi, guru memberikan materi asam basa dengan media yang disesuaikan dengan profil belajar siswa, yaitu : kelompok visual belajar dengan menggunakan media komik, baik berupa buku komik maupun komik elektronik, kelompok auditori belajar asam basa dengan menggunakan media video pembelajaran melalui perangkat handphone lengkap dengan headset agar tidak mengganggu siswa yang lain. Yang terakhir yaitu kelompok kinestetik, kelompok ini belajar asam basa dengan menggunakan media poster dinding, poster ini diletakkan di beberapa sudut ruangan agar memungkinkan siswa untuk berpindah-pindah tempat sesuai dengan kebutuhan belajarnya, hal ini karena salah satu ciri dari anak kinestetik adalah suka belajar dengan gerakan.

Tahap selanjutnya yaitu tahap praktikum. Tahap praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi beberapa larutan apakah bersifat asam atau basa dengan menggunakan beberapa indikator asam basa. Pada tahap ini, guru memberikan media praktikum sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Siswa dengan gaya belajar visual melakukan praktikum dengan aplikasi PhET dengan tipe Virtual Laboratory melalui handphone mereka. Sedangkan siswa dengan gaya belajar auditori melakukan praktikum dengan aplikasi yang sama yaitu PhET melalui handphone dilengkapi headset dengan tipe praktikum yang berbeda dengan praktikum visual dan dilengkapi vitur suara. Yang terakhir yaitu siswa dengan gaya belajar kinestetik melakukan praktikum nyata menggunakan alat laboratorium dan bahan-bahan yang tersedia di sekitar. Siswa kemudian menuliskan hasil praktikum pada LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) yang berbeda sesuai dengan praktikum yang mereka lakukan, meliputi : LKPD visual, LKPD auditori, dan LKPD kinestetik. LKPD yang sudah diisi oleh masing-masing kelompok ditampikan untuk dipresentasikan dan ditanggapi oleh kelompok lain.

Guru memberikan penguatan terhadap materi asam basa dilanjutkan dengan menyimpulkan hasil pembelajaran bersama siswa. Di akhir pembelajaran, siswa mengerjakan soal post test melalui link google form dilanjutkan dengan merefleksikan pembelajaran secara bersama-sama.

 

     D. Hasil

Hasil yang diperoleh dari pembelajaran ini yaitu siswa sangat senang dan antusias belajar menggunakan berbagai media sesuai dengan profil belajar mereka. Hal ini ditandai dengan keaktifan siswa dalam pembelajaran serta hasil pengisian kuesioner oleh siswa yang menunjukkan bahwa mereka senang dengan pembelajaran berdiferensiasi yang sudah mereka lakukan. Apalagi, penggunaan aplikasi PhET sebagai media berbasis Virtual Reality (VR) baik secara virtual maupun auditori  memberikan pengalaman baru bagi siswa. Secara kognitif, hasil post test juga menunjukkan bahwa lebih dari 80% siswa mampu memahami asam basa dan cara mengidentifikasinya dalam kehidupan sehari-hari.    

 

     E. Tantangan

Tantangan yang dihadapi diantaranya adalah :

  1. Guru harus benar-benar mampu memetakan kebutuhan belajar siswa dan memastikan bahwa siswa benar-benar memilih profil belajarnya sesuai dengan kebutuhannya, bukan hanya ikut-ikutan temannya saja karena akan berpengaruh pada proses belajar dan hasil belajar siswa tersebut.
  2. Guru harus mempersiapkan pembelajaran dengan baik, diantaranya adalah membuat atau mencari berbagai media yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar murid, baik secara visual, auditori, maupun kinestetik.
  3. Handphone (HP) menjadi salah satu media pembelajaran, sehingga semua siswa diharapkan membawa HP dan guru harus memantau penggunanannya agar tidak disalahgunakan saat pembelajaran.
  4. Media yang berbeda-beda membuat guru harus kreatif dalam mengkondisikan siswa agar kelas tetap kondusif.

     

     F. Solusi dan Tindak Lanjut

Agar pembelajaran kedepannya bisa lebih maksimal, guru perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya adalah :

  1. Guru melakukan observasi terhadap kebutuhan belajar murid, sehingga pemetaan kebutuhan hasil belajar tidak hanya berdasarkan hasil pengisian kuesioner saja.
  2. Guru bisa berkolaborasi dengan teman sejawat untuk merencanakan pembelajaran dan membuat media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar murid.
  3. Guru bisa menggunakan media lain untuk mengurangi penggunaan handphone, seperti laptop. Penggunaan laptop juga bagus untuk pengalaman belajar siswa dalam penggunaan teknologi informasi.
  4. Guru bisa memberikan selingan berupa ice breaking atau PSE (Pembelajaran Sosial Emosional) untuk mengkondisikan siswa.

 

      G. Dokumentasi

     H. Biodata Penulis

Uzi Mujizatun, S.Pd. Lahir di Brebes tanggal 10 September 1991. Lulus S-1 Pendidikan Kimia di UNNES tahun 2013 dan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di UT tahun 2020. Saat ini mengajar mata pelajaran kimia di SMA Negeri 1 Wanasari Kabupaten Brebes.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Best Practice Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas XI Materi Sistem Hukum Dan Peradilan Di Indonesia

Best Practice Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas XI Materi Sistem Hukum Dan Peradilan Di Indonesia Sub

10/12/2022 07:20 - Oleh Adminis - Dilihat 536 kali
Penyusunan Hasil Best Practice menggunakan metode STAR oleh Ihwan Faridi

Menyusun cerita praktik baik (Best Practice) menggunakan metode STAR (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil, dan Dampak) terkait pengalaman mengatasi permasalahan siswa dalam pembela

07/12/2022 21:20 - Oleh Adminis - Dilihat 487 kali
Kegiatan Penilaian Prestasi Kinerja Kepala Sekolah 2022 SMAN 1 Wanasari

Telah dilaksanakan kegiatan PKKS (Penilaian Kinerja Kepala Sekolah) pada hari Rabu, 16 November 2022 di SMAN 1 Wanasari. PPKKS (Penilaian Prestasi Kinerja Kepala Sekolah) meru

18/11/2022 09:30 - Oleh Adminis - Dilihat 513 kali
Perkemahan Blok SMAN 1 Wanasari Tahun Ajaran 2022/2023

Pendidikan Kepramukaan merupakan salah satu sarana dalam mengembangkan pendidikan karakter peserta didik. Pendidikan dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan intrakurikuler dengan pemi

31/10/2022 11:15 - Oleh Adminis - Dilihat 451 kali
Upacara Serah Terima Jabatan OSIS Tahun 2021-2022 ke Tahun 2022-2023 SMAN 1 Wanasari

Organisasi Siswa Intra Sekolah atau yang biasanya disebut OSIS adalah wadah yang memfasilitasi siswa-siswi sekolah untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dan bakat mereka. OS

18/10/2022 13:20 - Oleh Adminis - Dilihat 1279 kali